Tuesday, 26 May 2015

Softskills dan Hardskills

Apa itu softskills?
Perlukah softskills?

Softskills adalah sebuah istilah dalam sosiologi tentang EQ (Emotional Intelligence Quotient) seseorang, yang dapat dikatagorikan /klusterkan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, bertutur bahasa, kebiasan, keramahan, optimasi.

Softskills adalah 'berbeda' dengan hardskills yang menekankan kepada IQ, artinya penguasaan ilmu pengetahuan, teknolgi dan ketrampilan teknis yang berhugungan dengan bidang ilmunya.

Beda Soft dan Hard skills:



Katagori Softskills:

  1. Intra-personal skill : ketrampilan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri untuk pengembangan kerja secara optimal.
  2. Inter-personal skill : ketrampilan seseorang dalam hubungan dengan orang lain untuk pengembangan kerja secara optimal.

Contoh Softskills:


  1. Kejujuran
  2. Tanggung Jawab
  3. Berlaku adil
  4. Kemampuan bekerja sama
  5. Kemampuan beradaptasi
  6. Toleran
  7. Hormat terhadap sesama
  8. Kemampuan mengambil keputusan
  9. Kemampuannmemecahkan masalah
  10. Dsb





Sumber:
Prof. Dr. I Wayan Simri Wicaksana, S.Si, M.Eng


Untuk mendapatkan artikel lengkap mengenai sofkill dalam bentuk PDF secara gratis, anda dapat mengunduhnya di sini :




Publisher: Kadal - 08:43

Definisi Lengkap Mesin Bor

Sumber Gambar: goresanpenghayal.blogspot.com

Definisi Mesin Bor

Mesin bor adalah alat untuk memperbesar lubang yang telah digurdi atau diberi inti. Pada prinsipnya merupakan suatu operasi penepatan sebuah lubang yang telah digurdi sebelumnya dengan pahat jenis mesin bubut mata tunggal. Pengeboran merupakan proses permesinan presisi yang mencakup rigidity (kekerasan) dan accuracy produk dengan toleransi yang dirancang khusus. Lubang pada proses pengeboran dibentuk dan dikerjakan sampai akhir setelah digurdi.

Cara Kerja Mesin Pengebor

Prinsip kerja mesin bor menggunakan sistem pneumatik untuk proses pengeboran. Mesin bor ini terdiri atas dua langkah proses kerja yaitu dua silinder bersamaan menekan benda kerja dan silinder utama yang berada di dalam mesin mendorang meja untuk proses pengeboran. Dimana komponen-komponen sistem pneumatik pada mesin bor ini adalah silider utama, katup 5/2, regulator, one way flow control valve.

Mesin pengebor biasa disebut juga dengan mesin drilling. Mesin pengebor atau mesin drilling tersebut memiliki cara kerja sebagai berikut:
  1. Membuat alur atau bagian yang akan dipotong pada benda kerja.
  2. Meletakkan benda kerja pada meja kerja.
  3. Mengunci benda kerja dengan menggunakan ragum (penjepit).
  4. Memasang penggurdi pada spindel penggurdi.
  5. Mengarahkan mata penggurdi pada benda kerja yang akan dipotong.
  6. Menekan mesin penggurdi sehingga mata bor akan berputar dan menyebabkan benda kerja berlubang pada bagian yang diinginkan.
Macam-Macam Pahat Bor

Pahat bor disebut juga mata bor yang biasa digunakan untuk kerja bor kasar dan pembubutan muka permukaan dalam. Pahat bor ini dapat dikelompokkan menjadi:
  1. Mata bor spiral standar (normal), Sering digunakan.
  2. Mata bor spiral pelan, Digunakan untuk kuningan, perunggu, dan plastik.
  3. Mata bor spiral cepat, Digunakan untuk tembaga, alumunium, dan logam-logam lunak.


Sumber: Berbagai Sumber


Untuk file lengkap mengenai definisi lengkap mesin bor secara gratis, dapat anda unduh disini:



Publisher: Kadal - 04:41

DEFINISI LENGKAP MESIN BUBUT

Sumber Gambar: rudywinoto.com

Definisi Mesin Bubut

Mesin bubut mencakup segala mesin perkakas yang memproduksi bentuk silindris. Jenis yang paling tua dan paling umum adalah pembubut (lathe) yang melepas bahan dengan memutar benda kerja terhadap pemotong mata tunggal. Suku cadang di mesin harus dapat dipegang diantara kedua pusatnya, dipasangkan pada plat muka didukung pada pencekam rahang atau dipegang pada pencekam yang ditarik ke dalam atau leher (collet) [7].

Meskipun mesin ini terutama disesuaikan dengan pengerjaan silindris, namun dapat juga dipakai untuk beberapa kepentingan lain. Permukaan rata dapat dicapai dengan menyangga benda kerja pada plat muka atau ke dalam pencekam. Benda kerja yang dipegang dengan cara ini dapat juga diberi pusat, digurdi, dibor atau dilebarkan lubangnya. Sebagai tambahan, pembubut dapat digunakan untuk membuat kenob, memotong ulir atau membuat tirus. Pembubut berkepala roda gigi mendapatkan dayanya pada kepala tetap melalui sabuk V banyak yang dipasang pada motor di bawah. Untuk itu hanya perlu menggerakkan tuas yang menjulur pada kotak roda gigi. Rakitan kereta luncur mencakup perletakan majemuk, sadel pahat dan apron. Oleh karena mendukung dan memandu pahat pemotong, maka harus kaku dan dirancang dengan ketepatan tinggi. Tersedia dua hantaran tangan untuk memandu pahat pada gerakan arah menyilang. Roda tangan yang atas atau engkol tangan mengendalikan gerakan dari perlengkapan majemuk dan karena perletakannya dilengkapi dengan busur derajat penyetel putaran, maka dapat ditempatkan dalam berbagai kedudukan sudut untuk membubut tirus pendek. Roda tangan yang ketiga digunakan untuk menggerakkan kereta luncur di sepanjang landasan, biasanya untuk menarik kembali ke kedudukan semula setelah ulir pengarah membawanya sepanjang pemotongan.

Bagian dari kereta luncur yang menjulur di depan dari pembubut disebut apron, yaitu merupakan dinding ganda dicor yang berisi kendali, roda gigi dan mekanisme lain untuk menghantar kereta luncur dan peluncur menyilang dengan tangan atau daya. Pada permukaan apron dipasangkan berbagai tuas kendali dan roda. Pembubutan dilakukan untuk menghasilkan bagian-bagian yang bundar, benda kerja diputar pada sumbunya di mesin bubut ke arah sudut potong dari pahat potong sehingga akan dihasilkan geram. Proses ini disebut dengan Turning Operation.

Semua benda kerja hasil pembubutan merupakan bagian-bagian mesin, jig dan fixture, dan cekam.

Benda-benda tersebut dibuat dari bahan yang berbeda-beda tergantung dari kebutuhannya, dan dapat memiliki kualitas yang tidak sama satu sama lain.

Pengelompokan mesin bubut

Pembagian mesin bubut berdasarkan kemampuan pengerjaan dikelompokkan menjadi lima kelompok besar yaitu [7]:
  1. Mesin Bubut Ringan, Mesin ini bentuknya kecil dan sederhana, digunakan untuk mengerjakan benda-benda yang kecil pula. Biasanya diletakkan diatas meja kerja. Contoh: Mesin bubut Simonet.
  2. Mesin Bubut Revolver, Mesin ini khusus untuk memproduksi benda kerja yang ukurannya sama dan dalam jumlah yang banyak atau untuk pengerjaan awal. Contoh: Mesin bubut Kapstan.
  3. Mesin Bubut Sedang, Konstruksi mesin bubut ini lebih cermat dan dilengkapi dengan penggabungan perlengkapan yang khusus. Mesin ini digunakan untuk pengerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi.
  4. Mesin Bubut Standar, Mesin ini mempunyai power yang lebih besar dan digunakan untuk pengerjaan pembubutan yang memerlukan ketelitian tinggi dengan benda kerja yang cukup besar. Contoh: Cholcester Master dan Kerry.
  5. Mesin Bubut Beralas Panjang, Mesin bubut ini termasuk mesin bubut industri berat yang banyak digunakan pada benda kerja yang besar dan panjang. Misalnya poros-poros kapal dan poros transmisi.
Gerakan-gerakan dalam membubut

Dalam pengerjaan mesin bubut dikenal beberapa prinsip gerakan yaitu [7]:
  1. Gerakan berputar benda kerja pada sumbunya disebut “cutting motion, main motion”, artinya putaran utama. Dan cutting speed atau kecepatan potong merupakan gerakan untuk mengurangi benda kerja dengan pahat.
  2. Pahat yang bergerak maju secara teratur, akan menghasilkan “chip” (geram, serpih, tatal).Gerakan tadi disebut “feed motion”.
  3. Bila pahat dipasang dengan dalam pemotongan (“depth of cutting”), pahat dimajukan ke arah melintang sampai kedalaman pemotongan yang dikehendaki. Gerakan ini disebut “adjusting motion”.


DAFTAR PUSTAKA:
[7]        http://januarsutrisnoyayan.wordpress.com/2008/11/29/mesin-bubut/


Untuk mendapatkan artikel lengkapnya mengenai mesin bubut dalam bentuk PDF secara gratis, anda dapat mengunduhnya di sini :


Publisher: Kadal - 04:23

Monday, 25 May 2015

Jurnal Teknik Industri Sampling Pekerjaan (Work Sampling)

Sumber Gambar: slideplayer.info

Abstraksi

Metode sampling pekerjaan adalah suatu prosedur pengukuran yang dilakukan dengan melakukan kunjungan-kunjungan pada waktu-waktu tertentu yang ditentukan secara acak. Metode sampling pekerjaan dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalah tersebut, yang antara lain mengetahui distribusi pemakaian waktu sepanjang waktu kerja oleh pekerja atau kelompok pekerja, melakukan uji kecukupan data, menentukan total produktif dan non produktif, menentukan waktu baku, memperkirakan kelonggaran suatu pekerjaan. Penulis melakukan pengamatan di loket tiket stasiun kereta api Jakarta kota. Alasan memilih objek ini adalah karena ingin mengetahui lebih jauh tentang optimalisasi kemampuan petugas loket tiket dengan mempraktekkan sistem sampling pekerjaan yang telah dipelajari. Jumlah petugas sebnyak 2 orang. Mengetahui waktu baku untuk setiap elemen pekerjaan yang dilakukan petugas loket, dan menganalisis pekerjaan petugas sudah efektif dan efisien seperti standar EASNE. Berdasarkan hasil perhitungan operator 1 didapatkan persentase produktifnya sebesar 74% dan non produktifnya sebesar 26% dan operator 2 didapatkan persentase produktif sebesar 72,5% dan non produktifnya sebesar 27,5% . Pada perhitungan uji kecukupan data pada operator satu masih diperlukan 4554 kali pengamatan. Sedangkan pada operator dua masih diperlukan 4219 kali pengamatan. Pada uji keseragaman diperoleh pada operator 1, Batas Kontrol Atas (BKA) = 0,97, dan Batas Kontrol Bawah (BKB) = 0. Sedangkan untuk operator 2 diperoleh Batas Kontrol Atas (BKA) = 1,57 dan Batas Kontrol Bawah (BKB) = 0. Dari hasil perhitungan waktu baku berdasarkan metode Shumard, waktu baku yang diperoleh untuk operator 1 adalah 2,37 menit, sedangkan dari operator 2 didapatkan waktu baku sebesar 2,39 menit. Pada uji ketelitian data selama 5 kali pengamatan, pada operator 1 yang didapatkan adalah 48,3%, 36,3%, 30,3%, 24,5%, dan 23,9%. Sedangkan pada operator 2, uji ketelitian data yang didapatkan adalah 31,6%, 31,3%, 27,9%, 24,1% dan 23,0%.


Kata Kunci: Petugas Loket, Sampling Pekerjaan, Waktu Baku, Kelonggaran, Produktifitas.


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kurang diperhatikannya produktifitas pekerja pada suatu pekerjaan merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan hasil dari pekerjaan. Produktifitas pekerja merupakan salah satu unsur utama dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu pekerjaan, tapi seringkali penggunaan tenaga kerja tersebut tidak efektif, seperti menganggur, mengobrol, makan, minum, dan merokok di luar jam istirahat, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan pihak manajemen harus dapat mengetahui cara-cara untuk mengukur produktifitas pekerja sebelum melakukan upaya peningkatkan produktifitas pekerja tersebut. Ada banyak metode yang bisa digunakan untuk mengukur produktifitas pekerja, namun pengukuran ini sulit untuk dilakukan secara akurat. Oleh karena itu, metode sampling pekerjaan biasanya dilakukan untuk mengukur produktifitas pekerja tersebut. Selain itu, metode sampling pekerjaan dapat digunakan mengetahui distribusi pemakaian waktu sepanjang waktu kerja oleh pekerja atau kelompok pekerja, melakukan uji kecukupan data, menentukan waktu baku, dan memperkirakan kelonggaran suatu pekerjaan.

Sehingga hal yang melatarbelakangi pengamatan yang dilakukan pada operator loket Stasiun Kereta Api Jakarta Kota dengan menggunakan tabel waktu acak merupakan pengaplikasian dari pembelajaran mengenai modul sampling pekerjaan. Pengamatan tersebut berkaitan erat dengan kegiatan produktif dan non produktif yang dilakukan operator selama bekerja.


Untuk mendapatkan jurnal lengkapnya dalam bentuk PDF secara gratis anda dapat mengunduhnya di sini :




Publisher: Kadal - 17:57

Jurnal Teknik Industri Methods Time Measurement (MTM)

Sumber Gambar: mtm-hungaria.hu


Abstraksi

One of way of determining standard time by using method of time measurement. Way of this included in indirect time measurement because observer do not  have to always perceive a work or observer forecast operator work of  pursuant to its basic movement elements through tabless of data of existing movement time. This practice wish to measure time of solving of assembling keyboard by elaborating elements of base movement having an effect on in assembling. From base movement which have been elaborated, later then be made a schema analyse its to know time is solving of assembling keyboard. This final report addressed to know process of assembling keyboard, elaborating basic movement elements from assembling keyboard, making schema analyse from description of mentioned base movement and also make repair from elementary movements at  process of keyboard. Pursuant to elementary movements description at schema analyse video, obtained value of time TMU of  solving of keyboard equal to 12117.3 TMU. After converted and added with allowance obtained time of solving of keyboard equal to 488.57 second. Elementary movements at schema analyse video and layout later then be repaired. Repair of elementary movement elements that is by lessening movement frequency turn around bolt since movement turn around frequency amount turn around uneven so that the frequency turn around to every bolt made of equal. Others allowance in assembling keyboard minimized to become 10%. Totalizeing the time obtained in schema analyse repair equal to 367.17 second. While repair layout of assembling keyboard spaced as efficient as possible that is by minimizing distance between component and operator become 16 inch.

Keyword : Assembling Keyboard, Base Movement, Schema Analyse, Time Of Solving



PENDAHULUAN

Latar Belakang


Manusia merupakan sentral dari setiap sistem yang ada di sekelilingnya, baik karena manusia berperan sebagai pencipta sistem maupun karena manusia harus berinteraksi dengan sistem. Hal ini merupakan kegiatan manusia guna mengendalikan proses yang sedang berlangsung pada proses tersebut. Karena faktor manusia menjadi faktor terpenting dalam siklus produksi, metode kerja manusia dalam melakukan pekerjaannya menjadi suatu permasalahan untuk menghasilkan produk yang optimal. Dalam arti operator bekerja dengan sedikit mungkin energi yang dikeluarkannya, yaitu dengan menghilangkan gerakan-gerakan operator dalam pekerjaan tersebut yang sebenarnya tidak perlu. Semua itu pada akhirnya akan menciptakan suatu metode kerja yang mempunyai waktu siklus minimum dan dengan tingkat kelelahan atau kejenuhan yang seminimum mungkin, serta menghasilkan produk yang berkualitas maksimal.

Suatu pekerjaan yang utuh dapat diuraikan menjadi gerakan dasar. Suatu pekerjaan mempunyai uraian yang berbeda-beda bila dibandingkan dengan pekerjaan lainnya tergantung dari jenis pekerjaannya. Praktikum analisis perancangan kerja kali ini membahas mengenai metode pengukuran waktu (MTM-1) sebagai sarana untuk menetapkan waktu penyelesaian perakitan keyboard berdasarkan gerakan-gerakan dasar. Pada laporan akhir dalam modul MTM ini dilakukan pengukuran waktu tidak langsung dengan cara menguraikan elemen-elemen gerakan dasar pada perakitan keyboard. Berdasarkan gerakan dasar yang telah diuraikan kemudian dibuat bagan analisanya sehingga waktu penyelesaiaanya dapat diketahui. Setelah diketahui bagan analisa tersebut dapat dibuat bagan analisa perbaikan sehingga diperoleh siklus-siklus kerja yang lebih efisien.



Untuk mendapatkan jurnal lengkapnya dalam bentuk PDF secara gratis anda dapat mengunduhnya di sini :




Publisher: Kadal - 17:36

Definisi Peta-Peta Kerja Edisi Lengkap


Sumber Gambar: www.slideshare.net
Peta-peta kerja merupakan salah satu alat yang sistematis dan jelas untuk berkomunikasi secara luas dan sekaligus melalui peta-peta kerja ini kita bisa mendapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki suatu metoda kerja (Sutalaksana, 1979).

Contoh informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki suatu metode kerja, terutama dalam suatu proses produksi, ialah sebagai berikut: jumlah benda kerja yang harus dibuat, waktu operasi mesin, kapasitas mesin, bahan-bahan khusus yang harus disediakan, alat-alat yang harus disediakan, dan sebagainya (Sutalaksana, 1979).

Jadi peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas (biasanya kerja produksi). Lewat peta ini kita bisa melihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja dari mulai masuk kepabrik (berbentu bahan baku); kemudian menggambarkan semua langkah yang dialaminya, seperti: transportasi, operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan; sampai akhirnya menjadi produk jadi, baik produk lengkap atau merupakan bagian dari suatu produk lengkap (Sutalaksana, 1979).

Apabila melakukan studi seksama terhadap suatu peta kerja, maka pekerjaan dalam usaha memperbaiki metoda kerja dari suatu proses produksi akan lebih mudah dilaksanakan. Perbaikan yang mungkin dilakukan, antara lain: bisa menghilangkan operasi-operasi yang tidak perlu, menggabungkan suatu operasi dengan operasi lainnya, menemukan suatu urutan-urutan kerja/ proses produksi yang lebih baik, menentukan mesin yang lebih ekonomis, menghilangkan waktu menunggu antara operasi, dan sebagainya. Pada dasarnya semua perbaikan tersebut ditujukan untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan. Dengan demikian, peta ini merupakan  alat yang baik untuk menganalisa suatu pekerjaan sehingga mempermudah dalam perencanaan perbaikan kerja (Sutalaksana, 1979).

Lewat peta kerja ini pula bisa melihat semua langkah (urutan prosedur kerja) yang dialami oleh suatu benda kerja, material input atau bilangan berupa masukan yang lain dari saat mulai masuk ke lokasi kegiatan kemudian menggambarkan semua langkah-langkah aktivitas yang dialaminya guna memproses masukkan tersebut seperti: transportasi, operasi kerja, inspeksi, menunggu (delay) dan menyimpan, sampai akhirnya menjadi produk akhir (finished goods product) yang merupakan keluaran yang diinginkan (Sritomo, 1992).

Apabila melakukan studi seksama terhadap suatu peta kerja/ proses, maka untuk memperbaiki metode kerja ini akan mudah dilaksanakan. Perbaikan yang mungkin dilakukan antara lain (Sritomo, 1992):
  1. Menghilangkan aktivitas handling yang tidak efisien.
  2. Mengurangi jarak perpindahan operasi kerja dari suatu elemen kerja ke elemen yang lainnya.
  3. Mengurangi waktu-waktu yang tidak produktif seperti halnya dengan waktu menunggu (delay).
  4. Mengatur operasi kerja menurut langkah-langkah kerja yang lebih efektif dan efisien.
  5. Menggabungkan suatu operasi kerja dengan operasi kerja yang lain bilamana mungkin.
  6. Menemukan operasi kerja yang lebih efektif dengan maksud mempermudah pelaksanaan.
  7. Menemukan mesin atau fasilitas-fasilitas produksi lainnya yang mampu bekerja lebih produktif.
  8. Menunjukkan aktivitas-aktivitas inspeksi yang berlebihan.

Pada dasarnya semua perbaikan tersebut diatas ditunjukkan untuk mengurangi biaya produksi secara keseluruhan. Dengan demikian peta kerja merupakan alat yang baik untuk dipakai menganalisa suatu operasi kerja dengan tujuan mempermudah atau menyederhanakan proses kerja yang ada. Disamping itu juga merupakan alat yang penting guna menetapkan urutan proses yang seharusnya dilaksanakan dan menetapkan lokasi, mesin, serta personil yang diperlukan untuk masing-masing langkah pengerjaan tersebut (Sritomo, 1992).


Untuk file lengkap mengenai peta-peta kerja secara gratis dapat anda unduh disini:






Publisher: Kadal - 16:15

Permasalahan lingkungan dan dampak dari efektivitas usaha furniture (studi kasus)

Pendahuluan:
Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan sumber daya alam. Sehingga tak heran kalau Indonesia terkenal sebagai negara eksportir komoditi berbagai macam bahan baku seperti kayu dan rotan sebagai bahan baku furniture. Namun hal tersebut bisa menuai dampak yang signifikan pada sekitar ruang lingkup industri tersebut. Dampak tersebut cukup dirasakan disekitar industri tersebut.

Sumber Gambar: dinantikasalsabila.blogspot.com

Deskripsi Perusahaan:
PD. SEJAHTERA merupakan suatu usaha dagang yang memproduksi berbagai macam furniture sebagai bahan dalam pembangunan rumah, gedung, dan lain-lain. Hasil produksi tersebut antara lain kusen kayu, pintu kayu, jedela kayu, kursi, lemari, dan lain-lain. Setiap harinya perusahaan tersebut selalu memproduksi berbagai macam jenis pesanan furniture. Perusahaan tersebut terletak didaerah kuningan, Jakarta selatan yang lingkungan sekitarnya padat penduduk. Perusahaan tersebut beroprasi mulai pukul 08.00 wib sampai dengan 16.00 wib. Sebelum adanya perusahaan ini lahan yang digunakan untuk mendirikan usaha ini yaitu berupa tanah kosong, yang dikelilingi oleh pemukiman warga yang cukup padat penduduk.

Proses Produksi:
Berikut ini adalah siklus aliran pada proses produksi pembuatan produk kusen, pintu, dan jendela. Pada kotak yang ditandai hitam merupakan sumber munculnya suatu limbah.

Gambar: Siklus Proses Produksi
Berikut ini merupakan point-point timbulnya limbah pada siklus proses produksi:
1.      Pemotongan
2.      Penyerutan
3.      Pengeboran
4.      Pemahatan
5.      Penghalusan
6.      Pengecatan

Limbah Pabrik Kayu

Limbah utama yang dihasilkan oleh pabrik kayu yaitu berupa potongan-potongan kecil dan serpihan kayu dari hasil pemotongan dan hasil penyerutan. Limbah tersebut sangat sulit dikurangi, hanya bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin menjadi barang lain yang memiliki nilai ekonomis. Beberapa limbah lain dari sebuah industri furniture sebenarnya memiliki peran yang besar pada sebuah 'costing' serta dampak lingkungan sehingga akan sangat bermanfaat apabila bisa dikurangi.

Selain itu terdapat pula limbah yang dihasilkan seperti hasil dari finishing peralatan lainnya, biasnya banyak perusahaan furniture yang belum banyak menyadari pentingnya menjaga lingkungan sekitar sehingga banyak yang membuang sisa-sisa dari limbah tersebut ke sungai atau ke saluran air sekitarnya, sisa-sisa bahan finshing tersebut biasanya yaitu sisa dari pemakaian tiner.

Penanggulangan Limbah

Adanya limbah dimaksud menimbulkan masalah penanganannya yang selama ini dibiarkan membusuk, ditumpuk dan dibakar yang kesemuanya berdampak negatif terhadap lingkungan sehingga penanggulangannya perlu dipikirkan. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah memanfaatkannya menjadi produk yang bernilai tambah dengan teknologi aplikatif dan kerakyatan sehingga hasilnya mudah disosialisasikan kepada masyarakat.

Hasil evaluasi menunjukkan beberapa hal berprospek positif sebagai contoh teknologi aplikatif dimaksud dapat diterapkan secara memuaskan dalam mengkonversi limbah industri pengolahan kayu menjadi arang serbuk, briket arang, arang aktif, arang kompos dan soil conditioning.

Penerapan teknologi aplikatif dan kerakyatan ini dapat dikembangkan menjadi skala besar baik secara teknis maupun ekonomis. Lebih lanjut keberhasilan pemanfaatan limbah dapat memberi manfaat antara lain dari segi kehutanan dan industri kayu dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku konvensional (kayu) sehingga mengurangi laju penebangan/kerusakan hutan dan mengoptimalkan pemakaian kayu serta menghemat pengeluaran bulanan keluarga dan meningkatkan kesuburan tanah. Namun demikian mengubah pola kebiasaan masyarakat tidak mudah, diperlukan proses yang panjang.

Keterkaitan dengan ISO 14001 Terhadap Limbah dari Industri Kayu

Perencanaan:
a.    Aspek Lingkungan: Pemakaian Bahan Baku, Emisi ke udara, dan pemakaian energi.
b.   Persyaratan Hukum:
1)      Undang-undang No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Ø  Pasal 6 ayat (1) : “setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup”.
Ø  Pasal 14 ayat (1) : “untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup, setiap usaha dan/ atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup”.
Ø  Pasal 14 ayat (2) : “ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup, pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan pengaturan pemerintah”.
Ø  Pasal 15 ayat (1) : “setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup”.
Ø  Pasal 16 ayat (1) : “Setiap penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/ kegiatan”.
Ø  Pasal 18 ayat (1) : “Setiap usaha dan/ atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/ atau kegiatan.
Ø  Pasal 18 ayat (3) : “dalam izin sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup”.
Ø  Pasal 20 ayat (1) : “tanpa suatu keputusan izin, setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup”.
Ø  Pasal 22 ayat (1) : “Menteri melakukan pengawasan terhadap penataan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup”
2)      Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
Ø  Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/ atau komponen lain ke dalam udara ambient oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambient tidak dapat memenuhi fungsinya.
Ø Pengendalian pencemaran udara adalah upaya pencegahan dan/ atau penanggulangan pencemaran udara serta pemulihan mutu udara.
Ø  Sumber pencemar adalah setiap usaha dan/ atau kegiatan yang mengeluarkan bahan pencemar ke udara yang menyebabkan udara tidak dapat berfungsi sebagaimana menstinya.
Ø  Udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup, dan unsure lingkungan hidup lainnya.
Ø Pengendalian pencemaran udara adalah upaya pencegahan dan/ atau penanggulangan pencemaran udara serta pemulihan mutu udara (pasal 1 butir 2)
c.    Tujuan Lingkungan:
·      Mengurangi pemakaian bahan baku sebanyak 15% sampai desember 2011.
·   Mengurangi pencemaran udara diseluruh kawasan industri sebanyak 50% sampai desember 2011.
·    Mengurangi pemakaian energi secara keseluruhan sebesar 25% sampai desember 2011.
d.   Sasaran Lingkungan:
·   Mengurangi pemakaian bahan baku di unit produksi sampai dengan 10% hingga oktober 2011.
·    Mengurangi adanya skrap atau serbuk dari bahan baku sampai dengan 15% hingga November 2011.
·    Mengurangi pencemaran udara di sekitar lokasi industri sebesar 50% hingga November 2011.
·      Mengurangi pemakaian energi pada unit produksi sebesar 25% hingga oktober 2011.
e.    Program Manajemen Lingkungan  :
·  Melakukan pengenalan terhadap dampak limbah yang dihasilkan dari industri furniture.
·     Melakukan penanggulangan limbah seperti, menjadikan potonga-potongan kayu atau serbuk kayu yang ada menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis.
·      Penerapan terhadap penanggulangan limbah yang telah dilakukan.
·      Evaluasi terhadap usaha penanggulangan limbah yang telah dilakukan.


Daftar Pustaka

http://embundaun.wordpress.com/2008/11/14/pengolahan-limbah-industri-pengolahan-kayu/
http://fuadbahsin.wordpress.com/2009/01/26/kebijakan-pemerintah-dan-masalah-pencemaran-udara/
http://www.tentangkayu.com/2007/12/limbah-dari-industri-kayu.html




Untuk mendapatkan file lengkap berupa format PDF secara gratis, anda dapat menginduhnya disini:



Publisher: Kadal - 15:56